Kamu Sekuat Aku 2 : Berbagi Harapan dan Semangat

Hola halo…
Ini adalah tulisan lanjutan review saya untuk buku Aku Sekuat Kamu. Kali ini saya inģin menulis tentang buku kedua.

Setelah di buku 1 kita disuguhi drama luar biasa tentang perjalanan panjang seorang Ashya Sastradilaga hingga akhirnya berhasil sembuh, maka di buku 2 ini kita akan banyak menemukan informasi penting seputar leukemia. Mulai dari definisi, gejala, jenis-jenisnya, proses penanganan, macam-macam obat kemo plus efek sampingnya, proses kemoterapi, tips-tips sederhana dalam merawat penderita kanker, dll. Semuanya disajikan dlm ilustrasi yg sederhana sehingga mudah dipahami.

Setelah akhirnya berhasil sembuh, Aca kembali melanjutkan kuliahnya di FSRD ITB dan meraih mimpinya yang sempat terkubur. Jakarta kemudian menjadi tempatnya mengabdikan ilmunya dengan bekerja di sebuah perusahaan periklanan. Namun datangnya tawaran beasiswa S2 dari almamaternya membawanya kembali ke Bandung, kota yg sangat dicintainya. Ketika menyelesaikan tesis inilah, Aca memenuhi janjinya ketika sakit dulu. Ia pernah berjanji bahwa setelah sembuh, ia harus menjadi manusia yang memberi manfaat lebih banyak bagi sesama, khususnya para penderita kanker leukemia. Ia merasa tidak cukup hanya dengan menjadi pendamping. Ada hal yg lebih besar harus dilakukannya.

Continue reading

Kamu Sekuat Aku 1 : Menaklukkan Kanker Leukemia

ASK

Ini bukan resensi, cuma sekedar ingin menuliskan apa yang saya dapat setelah membaca dua buku ini. Saking terkesannya. Saya suka dengan gaya penulisannya dan juga kagum pada penulisnya.

Buku ‘Kamu Sekuat ‘Aku’ adalah sebuah novel kisah nyata tentang perjalanan panjang seorang survivor kanker leukemia. Ditulis oleh Ashni Sastrosoebroto (dalam novel namanya disamarkan sedikit menjadi Ashya Sastradilaga), seorang perempuan yg divonis kanker leukemia di usia 19 th, saat masih kuliah di FSRD ITB. Nah, ini salah satu poin yang membuat saya merasa ‘dekat’ dengan buku ini. Sebagian besar setting dalam buku ini ada di Bandung, my second homeland, tempat saya menghabiskan masa SMA dan kuliah. Dan kebetulan penulisnya pun satu almamater dengan saya. Maka banyak deskripsi tempat, suasana, bahkan nama jajanan khas Bandung yang akrab di telinga dan memori saya.

Continue reading

This entry was posted on February 29, 2016. 2 Comments

Stop Menyusui Karena Sakit, Perlukah?

Salah satu pengalaman menyedihkan yang pernah saya alami sebagai ibu adalah terpaksa berhenti menyusui anak saya yang ketiga. Gara-garanya, saya sakit berat sehingga harus minum berbagai macam obat. Padahal waktu itu bayi saya baru berumur 10 hari. Sementara kedua kakaknya sukses saya kasih ASI eksklusif selama 6 bulan dan lanjut sampai 2 tahun. Kebayang kan sedihnya? Saya sampai nangis lho waktu melihat ASI saya dipompa untuk dibuang. Apalagi waktu itu produksi ASI saya sedang banyak-banyaknya, sampai-sampai payudara saya bengkak. Tidak cukup dipompa, tapi terpaksa dipijat oleh suster untuk mengeluarkan “bendungan-bendungan” ASI supaya saya tidak demam. Hmmm….jangan ditanya sakitnya.

Waktu itu terus terang saya hanya bisa pasrah. Bukan hanya karena mengkonsumsi banyak obat, tapi kondisi saya saat itu sangat lemah sehingga menyusui menjadi aktivitas yang lumayan menguras energi. Sementara satu pantangan terbesar bagi saya adalah dilarang capek! Bahkan di rumah pun saya tidur terpisah kamar dengan si kecil. Karena tidur saya pun harus dijaga supaya benar-benar nyenyak. Dan saya sangat percaya kepada dokter jantung yang merawat saya. Saya hanya fokus pada proses penyembuhan penyakit saya.

Continue reading

This entry was posted on February 22, 2016. 4 Comments

Mendampingi Anak Mengatasi Stres dan Persaingan

Siapa sih yang nggak kenal bunda Elly Risman? Buat para orang tua, terutama kaum ibu, yang selalu update berita seputar parenting, pasti tahu. Karena sering membaca tulisan-tulisan beliau, saya pun penasaran ingin datang ke salah satu event yang menghadirkan Bu Elly sebagai pembicara. Nah, kebetulan hari Sabtu (23/1) beliau diundang oleh sebuah SDIT di Bogor. Nggak mau hilang kesempatan, saya pun meluncurrrr deh. Ini sedikit oleh-olehnya…

*****

Menyimak bunda Elly berbicara secara langsung itu beda banget lho dengan hanya membaca teori-teori parenting. Tema yang saya ikuti kali ini “Anak Yang Sukses Menghadapi Persaingan dan Stress”. Tapi Meskipun judulnya “seminar parenting” dan bunda Elly adalah seorang psikolog, gaya beliau lebih mirip seperti seorang motivator. Ruangan selalu hidup, dan peserta semangat menyimak. Nggak jarang beliau membuat peserta tertawa. Misalnya waktu beliau menjelaskan tentang kebiasaan buruk komunikasi orang tua yang serba tergesa-gesa. Bunda Elly dengan kocaknya menirukan gaya ibu2 yang dengan cerewetnya membangunkan anak2 untuk sekolah, memerintah si anak ini-itu, bahkan memotong bicara anak saat anak ingin bercerita. Ruangan pun dipenuhi ‘gerrrrr’ dari peserta, yang sebetulnya sih sedang menertawakan diri sendiri karena apa yang dicontohkan bunda Elly rasanya “gue banget” hehehe….

Continue reading

This entry was posted on February 19, 2016. 2 Comments

Ablasi yang Mendebarkan

Lagi-lagi, manusia memang hanya bisa berencana, Allah juga yang menentukan. Rencana untuk pergi sendiri ke RS Binawaluya ternyata harus berubah. Senin pagi, saat adan shubuh belum lagi berkumandang, serangan itu datang lagi. Kepala saya pusing, tubuh lemas, dan rasa tak nyaman di dada. Saya bangunkan suami dengan bantuan handphone karena kami tidur di kamar terpisah. Suami menjaga bayi kami, sementara saya tidur dengan si sulung, supaya tidur saya tak terganggu.

Dengan bantuan kakak ipar, saya pun dilarikan lagi untuk yang ke tiga kalinya ke RSPSC. Tak perlu lama menunggu, dokter pun datang. Setelah memeriksa kondisi saya, dokter menyarankan agar saya dibawa ke Binawaluya saat itu juga, menggunakan ambulance milik rumah sakit. Karena terlalu riskan jika saya jika saya pergi dengan kendaraan pribadi. Apalagi jalur Bogor-Jakarta juga sering nggak bisa diduga, bisa saja terjebak macet di jalan tol. Continue reading

This entry was posted on January 11, 2016. 16 Comments

Ketika Jantung tak Seirama

Tepat seminggu setelah keluar dari RSPSC, Senin tgl 16 Juni saya kontrol ke RSPSC. Saat itu satu-satunya keluhan saya hanya sedikit pusing. Tapi menurut dr. Iqbal, kondisi saya sudah jauh lebih baik. Muka saya tidak pucat lagi, tanda-tanda vital (tekanan darah dan nadi) juga normal. Saya hanya diminta untuk kontrol sebulan sekali, dan di bulan ke tiga nanti akan dilakukan usg jantung untuk melihat perkembangan kondisi jantung saya.

Melihat perkembangan kesehatan saya, suami memutuskan untuk kembali ke Banda Aceh, karena sudah terlalu lama meninggalkan pekerjaan. Rencananya, Kamis pagi suami saya akan terbang, bahkan tiket pun sudah di tangan. Namun ternyata Allah masih punya rencana lain…. Continue reading

Perkenalanku dengan PPCM

Kepulangan saya dan bayi saya tentu saja disambut gembira oleh keluarga yg menunggu di rumah, kakak2 dan ibu saya. Dua hari kemudian, melihat kondisi saya dan bayi cukup sehat, ibu dan kakak saya no.3 pulang ke kampung halaman karena harus mempersiapkan pernikahan kakak saya. Saya pun menjalani rutinitas sebagai ibu seperti biasa. Rasa pusing juga sudah mulai berkurang.

Jumat pagi, saya dan suami kontrol ke dokter untuk mengecek kondisi jahitan. Alhamdulillah tidak ada masalah. Saya hanya diminta merawat luka bekas jahitan dengan prosedur yg sudah saya hafal: mengusapkan alcohol 70% dengan kasa steril setiap kali habis mandi. Malamnya, saya tiba2 sering terbatuk-batuk saat menarik napas, dan merasakan gatal di bagian dada (bukan di tenggorokan seperti batuk pada umumnya). Hari Sabtu sore 31 Mei, kami kembali ke RS membawa bayi kami untuk control ke dokter spesialis anak. Dokter meminta dilakukan cek darah di laboratorium. Karena batuk saya semakin sering, suami menyarankan saya untuk sekalian periksa ke dokter jaga di IGD. Dokter tidak mendeteksi kelaianan apa2 dan hanya memberi saya obat batuk. Continue reading