Ketika Kita Salah Memilih Kata

FB_IMG_1493566445766Beberapa waktu lalu saya mengikuti acara Sekolah Orang Tua yang diadakan oleh sekolah anak saya. Acara ini semacam seminar parenting yang bertujuan untuk memperluas wawasan dan pengetahuan orang tua  tentang anak. Selain itu, juga agar antara pihak orang tua dan sekolah memiliki kesamaan visi dalam mendidik anak.

Sebenarnya tema yang diangkat sudah sangat umum, yaitu “Membentuk Pribadi dengan Ahlak Islami.” Tapi ada hal menarik yang disampaikan oleh pemateri dan sangat mengena di hati saya, yaitu pesan Rasulullaah SAW berkaitan dengan kewajiban orang tua terhadap anak.

Dalam satu riwayat, dikisahkan bahwa Rasulullah saw mengingatkan para sahabat-sahabatnya dalam sebuah majelis.
Rasulullaah SAW bersaba, “Hormatilah anak-anakmu dan didiklah mereka. Allah SWT memberi rahmat kepada seseorang yang membantu anaknya sehingga sang anak dapat berbakti kepadanya.”
Kemudian salah seorang sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana cara membantu anakku sehingga ia dapat berbakti kepadaku?”
Nabi menjawab dengan menyebutka 4 poin, yaitu:
1. Menerima usahanya walaupun kecil
2. Memaafkan kekeliruannya
3. Tidak membebaninya dengan beban yang berat
4. Tidak memakinya dengan makian yang melukai hatinya.

Tiga poin pertama bagi kebanyakan orang tua mungkin relatif lebih mudah untuk dipraktekkan. Tapi poin keempat sepertinya masih menjadi PR besar. Mungkin kita sebagai orang tua tidak pernah mengeluarkan kata-kata makian yang kasar. Tapi seringkali saat emosi tak terkontrol, tanpa sadar stempel-stempel negatif meluncur dari bibir kita, seperti: anak nakal, susah diatur, cengeng, dan lainnya. Padahal, menurut para pakar psikologi dan pendidikan anak, memberikan cap negatif pada anak akan berdampak buruk karena anak akan mempersepaikan dirinya seperti apa yang diucapkan orang tuanya.

Yang lebih ‘mengerikan’ lagi adalah jika anak tersinggung atau bahkan sakit hati akibat ucapan orang tuanya. Orang tua memang bisa dan harus meminta maaf saat berbuat kesalahan kepada anak, termasuk saat mengucapkan kalimat yang membuat si anak sedih atau tersakiti. Tapi, seperti kata pepatah, ucapan yang menyakitkan ibarat paku yang ditancapkan. Meskipun pakunya bisa dicabut, namun akan tetap meninggalkan bekas.

Begitu dahsyatnya efek dari ucapan yang menyakitkan. Tidak heran Rasulullaah SAW jauh-jauh hari sudah memberikan ‘warning’ soal ini. Maka, sebagai orang tua, kita harus mencari cara terbaik mengontrol emosi yang sesuai untuknya. Setiap orang memiliki cara berbeda. Ada yang memilih cara seperti nasihat Rasul yaitu dengan berwudhu dan beristighfar, ada yang memilih diam, meninggalkan ruangan sesaat dan menenangkan diri, dan sebagainya. Apa pun, yang terpenting adalah agar jangan sampai kita menyesal saat pribadi anak menjadi tidak seperti yang kita harapkan gara-gara salah memilih kata. Yang tak kalah penting tentu saja jangan pernah berhenti memohon bimbingan Allah SWT agar kita bisa menjaga amanah-Nya agar menjadi hamba seperti yang Dia inginkan.

Emak, Engkaulah Kasih Sayang Itu.

Kami biasa memanggil beliau dengan ’emak’. Panggilan yang umum bagi masayarakat Brebes, kota kelahiranku. Panggilan yang selalu membuat hatiku bergetar saat mengingat perjuangannya.

Aku terlahir sebagai anak keempat dari enam bersaudara. Bapak meninggal saat aku berusia 11 tahun. Sejak itu – hingga sekarang – emak memilih untuk tetap sendiri, membesarkan keenam anaknya. Seluruh hidupnya dihabiskan dengan perjuangan tanpa lelah demi kami. Perjuangan bertaruh nyawa dan cucuran darah saat melahirkan kami harus diteruskan dengan cucuran peluh dan air mata, yang seringkali beliau sembunyikan dari kami.

Begitu berat perjuangan Emak. Semakin aku mengingatnya sekarang,  semakin aku merasa betapa luar biasanya perjalanan hidup Emak. Aku ingat, apapun dilakukan olehnya demi kami, anak-anaknya.

Emak memiliki warisan tanah sawah yang cukup luas, yang digarap oleh para petani penggarap. Meski tidak mengerjakan sendiri, tetap saja Emak harus rutin turun ke sawah, berpanas-panasan, untuk memastikan semuanya berjalan dengan semestinya.

Karena penghasilan dari sawah tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan kami, Emak pun berjualan. Padahal aku tahu, urusan sawah sudah cukup menguras tenaga dan pikiran. Tapi beliau punya satu misi: anak-anaknya harus bersekolah setinggi mungkin, minimal jadi sarjana. Impian sederhana tapi cukup ‘wah’ untuk ukuran saat itu, apalagi bagi kami yang tinggal di kota kecil. Sebuah misi yang mencerminkan betapa Emak berpikir jauh ke depan.

Maka, apapun dilakukan Emak. Awalnya Emak membuat dan menjual es mambo yang dititpkan ke warung-warung di sekitar rumah. Aku ingat sekali, malam selesai belajar atau pagi-pagi selepas shubuh, kami anak-anak perempuan membantu beliau membungkusi es mambo.

Pohon jambu di belakang rumah pun tak luput dari naluri bisnis Emak. Setiap kali musim berbuah, pohon jambu kami menghasilkan buah yang berlimpah. Mungkin ini salah satu pintu rizki yang diberikan Allah untuk kami. Lagi-lagi Emak menitipkannya di warung di lingkungan kami. Hasilnya lumayan untuk ukuran saat itu.

Tidak hanya itu. Ketika kakakku yang tertua kuliah di Bandung, Emak pun ‘mengembangkan sayapnya’. Kakakku membeli jeans, pakaian, dan sepatu dari Bandung yang terkenal berkualitas baik, untuk dijual secara kredit oleh Emak. Pasarnya, para penggarap sawah dan orang-orang kampung.

Begitu beragam usaha yang dilakukan Emak, tapi bukan berarti semuanya berjalan mulus. Ketika jenjang pendidikan yang harus kami tempuh makin tinggi, pengeluaran pun membengkak. Emak pun merelakan seluruh perhiasan yang dimilikimya untuk dijual.

Satu per satu kami meninggalkan kota kecil kami untuk melanjutkan pendidikan. Kami berlima memilih Bandung, sedangkan adik bungsuku melanjutkan kuliah di Yogyakarta. Emak pun harus sering menjenguk kami, sendirian menempuh perjalanan Brebes – Bandung.

Ahh … hatiku selalu basah kala mengingat itu semua. Kasih sayang Emak tak pernah berubah hingga sekarang, meskipun dalam wujud yang berbeda. Saat jantungku bermasalah beberapa tahun lalu, Emak memelukku dan menangis. Bahkan sampai kini saat aku sudah sembuh, beliau akan sangat khawatir meski aku hanya mengeluh pusing. Emak sangat takut penyakitku kambuh.

Lalu lagi-lagi pertanyaan itu menggedor-gedor benakku. Apa yang sudah kulakukan untuk Emak? Di dunia ini, pun di akhirat kelak. Yang kuingat, justru aku sering tak sabar dengan perubahan Emak yang mulai sepuh. Astaghfirullaah.

Aku tahu, semua yang Emak berikan tak kan pernah bisa terbalas. Emak pun tak pernah memintanya. Bahagia beliau sangat sederhana: melihat anak-cucunya sehat, bahagia dengan keluarga masing-masing, dan masih bisa sering berkumpul bersamanya. Semua itu mampu membuat mata Emak berbinar, sepeti binar matanya saat satu per satu anak-anaknya diwisuda.

Emak bukan perempuan tanpa cacat. Tapi beliau sempurna bagiku. Aku tak mungkin berada di sini, menjadi siapa aku sekarang, tanpanya. Emak akan selalu ada bersamaku meski kami terpisah jarak. Karena bagiku, Emak adalah kasih sayang itu sendiri.
FB_IMG_1490754355670

Menjadi Alumni Sekolah Perempuan: Bangga Meski Tanpa Toga

alumni-sp12

“Mama lagi ngapain?”, tanya anak saya yang ke dua, Naura (5 tahun), saat melihat saya tengah sibuk di depan laptop.

“Mama lagi bikin pe-er,” jawab saya.

“Ih … mama kaya anak kecil aja, punya pe-er,” katanya sambil tertawa. “Memangnya mama anak sekolah?”

Lalu saya pun mulai ‘ceramah’.

“Naura, yang boleh sekolah bukan cuma anak kecil. Ibu-ibu seperti mama juga boleh sekolah. Mama harus belajar terus, supaya pintar. Tapi, sekolahnya beda dengan sekolah Naura. Mama sekolahnya cukup dari rumah saja.”

Naura mengangguk-angguk. Saya tidak tahu apakah dia mengerti sepenuhnya dengan apa yang saya katakan. Tapi, setidaknya dengan melihat aktivitas saya belajar, kelak dia akan paham bahwa belajar adalah hak setiap orang, tidak peduli berapa pun usianya.

Continue reading

Catatan Jantung Seorang Ibu

Kehadiran putri kami yang ketiga memang penuh kejutan, bahkan sejak pertama kali ketika menyadari saya hamil lagi. Saya dan suami memang berencana untuk tidak memiliki anak lagi setelah kami dikaruniai sepasang putra dan putri. Tapi rupanya Allah masih berkenan menitipkan satu amanah lagi.

Masa kehamilan ketiga ini sangat berat. Morning sickness saya alami hingga usia kandungan 6 bulan, sangat mudah lelah, sering mengalami pusing, dan kaki bengkak. Mungkin karena usia saya yang saat itu sudah masuk 39 tahun. Alhamdulillah, Selasa, 20 Mei 2014, lahirlah Zahwa, melalui operasi Caesar di sebuah rumah sakit ibu dan anak di Bogor. Ini adalah operasi Caesar yang ketiga bagi saya. Karena itu, dokter kandungan menyarankan saya untuk sekaligus melakukan sterilisasi.

Continue reading

Pentingnya Berkomunitas Bagi Survivor Penyakit Serius

komunitas

Menerima vonis penyakit serius merupakan pukulan yang sangat berat bagi siapa pun, bahkan bisa memicu depresi. Hal ini sangat wajar terjadi karena nyawa lah yang menjadi taruhannya. Menurut sebuah studi, seseorang yang menerima vonis penyakit serius akan memiliki tingkat kecemasan dan depresi yang tinggi selama minggu atau bulan pertama. Jika setelah melewati beberapa bulan tingkat kecemasan dan depresi masih sangat tinggi, emosi tersebut dapat menyebabkan kemunduran kondisi fisik penderita.

Depresi pasca menerima vonis biasanya disebabkan karena munculnya perasaaan cemas dan pikiran-pikiran negatif, seperti apakah bisa bertahan hidup lebih lama, kekhawatiran akan masa depan anak-anak, serta akibat ketidakmampuan melakukan kegiatan fisik seperti sebelumnya. Untuk mengurangi tingkat depresi ini dibutuhkan dukungan dari berbagai pihak, seperti keluarga, sanak saudara, teman dekat, dan dokter yang merawatnya.

Continue reading

Avaloka Medic Oil: Kotak P3K Dalam Sebotol Minyak

Belakangan ini, segala sesuatu yang berbau organik, herbal, atau alami, semakin digemari banyak orang. Mulai dari makanan, kosmetik, apalagi obat-obatan. Saya sendiri juga begitu. Kalau hanya sekedar pusing, batuk-pilek, atau badan terasa pegal, sebisa mungkin saya coba atasi dulu dengan obat luar atau obat tradisional. Misalnya, untuk sakit kepala cukup minum teh panas, gosok minyak angin, lalu dibawa tidur dengan kondisi kamar gelap dan sejuk. Untuk batuk-pilek, cukup minum  perasan lemon + madu.

Nah, untuk mengatasi masalah kesehatan ringan, ada produk baru yang sangat menarik. Namanya Avaloka Medic Oil. Minyak ini berbahan dasar rempah-rempah asli nusantara. Cara pakainya mudah kok. Cukup dengan meneteskan minyak di telapak tangan lalu digosok sampai terasa panas, baru kemudian diusapkan/ditempel/dipijit ringan di bagian tubuh yang bermasalah. Efek penyembuhannya juga sangat cepat, hanya 5-15 menit setelah pengolesan, karena minyak ini memiliki ukuran molekul yang sangat kecil sehingga mudah terserap sempurna oleh pori-pori.

avaloka

Terus, apa saja khasiatnya? Selain untuk mengatasi keluhan ringan seperti flu, demam, dan kembung, Avaloka Medic Oil juga bisa mengatasi banyak sekali masalah tak terduga dalam aktivitas sehari-hari, sebelum mendapatkan pertolongan intensif. Misalnya, luka sayat, luka akibat terjatuh, benturan, terkilir, pusing, pingsan, mimisan, kram otot/kesemutan, asthma, dan epilepsi. Tidak perlu repot membawa kotak P3K dengan bermacam-macam obat. Cukup 1 botol kecil minyak Avaloka saja. Praktis banget, kan? Harganya juga murah, cuma Rp. 100.000 isi 100ml.

Soal keamanan, jangan kuatir. Produk ini sudah terdaftar kok di BPOM. Dijamin aman untuk wanita hamil dan menyusui, anak anak, dan manula, juga aman dipakai sesering mungkin. Eh, ada yang unik lho pada produk ini. Kita akan menemukan sejenis akar di dalam botol kemasannya. Akar tersebut adalah akar wangi yang memiliki khasiat sebagai anti nyeri. Sedangkan butiran yang ada di botol adalah garam organik Himalaya sebagai pengawet alami.

Oya, selain Avaloka Medic Oil, ada 2 jenis minyak lainnya yang diproduksi oleh Avaloka, yaitu Avaloka Premium Oil (untuk mengatasi penyakit serius) dan Avaloka Lavender Essential Oil (untuk relaksasi, membuat tidur nyenyak, bahkan mengatasi keputihan).

Penasaran dengan produk-produk Avaloka? Langsung hubungi sellernya ya:

Ibu Femmy Maharany

WA : 08114913755

BB : 7BC319E

IG : @femmy_lseherba

FB : Femmy Maharany

Turun 7kg Tanpa Tersiksa, Mau?

lse-herba

Kalau perempuan lagi ngumpul, apa sih yang paling sering dibicarain? Salah satunya pasti soal DIET. Bener nggak? Persoalan berat badan memang topik yang nggak ada matinya ya. Sampai-sampai banyak yang rela tersiksa demi tubuh langsing. Baik tersiksa karena caranya yang ekstrem, maupun akibat efek samping gara-gara mengkonsumsi obat pelangsing sembarangan.

Padahal, diet bisa dilakukan dengan cara yang aman dan menyenangkan lho. Yang penting, perhatikan 6 PRINSIP DIET SEHAT berikut:

  1. Tentukan target kecil, sederhana, dan realistis setiap minggu, supaya diet tidak terasa berat.
  2. Aktif bergerak, misalnya olah tubuh di pagi hari minimal 2-3 jam per minggu.
  3. Kurangi makanan kemasan, makanan siap saji, dan gorengan.
  4. Pilih makanan yang diolah dengan cara dikukus atau direbus.
  5. Atur ulang isi piring Anda: pilih sumber karbohidrat yang sehat (beras merah atau kentang), daging tanpa lemak/ikan/daging unggas, perbanyak buah, sayur, dan kacang-kacangan.
  6. Melakukan kebiasaan baik, seperti mengonsumsi air putih, tidak melewatkan makanan utama, dan makan dengan tenang.

Jadi, kalau mau konsumsi produk pelangsing, pilih yang sesuai dengan 6 prinsip di atas ya. Emangnya ada? Ada dong. Namanya LSE HERBA. Si kapsul ajaib ini nggak akan membuat tersiksa, karena:

  • Tanpa diet ketat
  • Tanpa olahraga berat
  • Tanpa membatasi makan, makan normal 3 x sehari
  • Tanpa rasa lapar
  • Tanpa efek samping
  • Tidak menyebabkan ketergantungan
  • Badan tidak kembali lebar setelah berhenti mengkonsumsi
  • Bahannya 100% alami tanpa campuran bahan kimiawi, yaitu: jati belanda, meniran, kunyit, delima putih, temulawak, dan jeruk nipis.

Tapi jangan berharap hasilnya instan ya, karena LSE HERBA bekerja sesuai dengan kerja tubuh. Caranya dengan mengembalikan dan meningkatkan sistem metabolisme tubuh yang kacau agar kembali bekerja dengan baik. Tumpukan lemak di dalam tubuh akan diubah menjadi energi atau dibuang dalam bentuk keringat.

Oya, harganya juga ngga bikin kantong bolong kaya produk diet lain yang sampai berjuta-juta itu. Cuma Rp. 275.000 saja per botol, bisa untuk 1 bulan.

Penasaran? Langsung hubungi Ibu Femmy Maharani ya, yang sudah berhasil turun 7kg setelah mengkonsumsi 1 botol LSE HERBA.

Ibu Femmy bisa dikontak melalui:

WA : 08114913755

BB : 7BC319E

IG : @femmy_lseherba

FB : Femmy Maharany

Selamat mencoba ya dan say no to diet menyiksa!